
Cinta. Kata yang sederhana namun sarat
makna. Satu rasa yang ada dalam dada setiap manusia. Satu kata dan rasa
yang terkadang terlalu rumit untuk dicari definisinya. Satu rasa yang
banyak dipuja-puja oleh manusia. Terkadang berubahlah ia sebagai berhala
baru yang disembah-sembah, bila manusia salah memaknai cinta. Cinta tak
pernah lepas dari semua lakon dalam panggung kehidupan manusia.
Cintalah yang membuat seorang
ibu rela menukar nyawa yang dipunya demi bayi mungilnya. Karena cintalah
seorang ayah rela bekerja dengan sungguh meski bermandi peluh. Karena
cintalah seorang kakak rela berbagi dan melindungi adiknya. itulah bunga
cinta yang tumbuh di taman keluarga
Kita bisa belajar cinta dari
Rasulullah teladan kita yang mulia, cintalah yang mendorong beliau untuk
menolak tawaran malaikat untuk menimbun penduduk Thaif yang telah
mendzalimi Beliau. Justru sebaliknya beliau menghujani penduduk Thaif
dengan do’a agar Allah melimpahkan ampunan dan hidayah kepada mereka.
Karena cinta yang besar kepada Allah yang menjadikan beliau tak pernah
lelah untuk menyampaikan risalah dakwah yang beliau emban, meski aral
dan rintangan tak pernah berhenti menghadang.Begitu besar pula cinta
beliau kepada kita umatnya, sehingga hal yang beliau khawatirkan di
ujung akhir usia beliau adalah kita. Disebabkan oleh rahmat Allah dan
rasa cinta beliau kepada orang mukmin, tersedia syafa’at sebagai salah
satu jalan sebagai pembuka pintu surga. Begitulah cinta Rasulullah,
Sudahkah kita sebagai umat beliau menyambut uluran cinta beliau agar
cinta sucinya tak bertepuk sebelah tangan.
Cintapun hadir menghiasi
kehidupan umat muslim di era kepemimpinan Rasulullah, sejarah mencatat
bagaimana agungnya jalinan cinta antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin.
Disebabkan oleh cintalah, kaum Anshar merelakan separuh dari harta
mereka untuk diinfaqkan kepada saudara mereka dari kaum Muhajirin.
Karena kaum Anshar meyakini sepenuhnya bahwa ikatan cinta karena ikatan
aqidah jauh lebih berharga di mata Rabb mereka. Begitulah bunga cinta
yang tumbuh subur karena kokohnya ikatan Aqidah harum mewangi begitu
indah.
Dan diatas semua cinta, terdapat
cinta yang Maha Luas dari Allah Yang Maha Mencintai. Karena cinta,
Allah memberi dua mata kita yang sempurna dalam memandang, mengaruniakan
sepasang tangan dan kaki yang berjari lengkap, mampu bergerak sempurna.
Tak hanya itu dianugerahkan-Nya pula kepada kita qolbu (hati) yang akan
membantu menuntun dan mengontrol diri kita .Hati yang akan bergerak
resah ketika diri kita alpa dan lalai dari Nya. Lalu apa yang bisa kita
lakukan sebagai tanda cinta dan syukur atas segala nikmatNya. Menjaga
pandangan demi kesucian, sebagai tanda syukur atas nikmat bashirah yang
diberikanNya. Sudahkah? Menjadikan setiap gerak dari seluruh indra dan
setiap bagian dari tubuh kita untuk beribadah kepada Nya. Sudahkah?
Meniti langkah di jalanNya dengan tegar mseki duri tersebar di sepanjang
jalan serta bekerja keras demi tegaknya dienNya hingga cahayaNya
berpenancar menyinari jagad raya. Sudahkah? Sudahkah engkau teteskan
peluhmu, mengorbankan waktumu, menginfaqkan hartamu, atau bahkan
meneteskan darahmu? Jika belum satupun yang sudah engkau lakukan untuk
membuktikan cintamu padaNya,maka tak ada salahnya jika Allah mencabut
kembali cintaNya padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar